Solidaritas untuk Palestina

Just another [Solidarity for Palestine]‘s Blog

  • Kategori

  •  

    Februari 2012
    S S R K J S M
    « Jan    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    272829  

PM Turki Sumpah Serapahi Presiden Israel

Posted by Hamzah pada Januari 30, 2009

Hubungan Israel-Turki Israel memasuki babak baru yang dramatis. DalamSWITZERLAND WORLD ECONOMIC FORUM pertemuan di Davos, Swiss pekan ini, Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan tanpa diduga secara berani meninggalkan forum pembicaraan ekonomi dunia setelah beradu mulut dengan Presiden Israel, Shimon Perez, Selasa malam (27/01). Erdogan tanpa rasa takut berdebat panas dengan Perez tentang agresi Israel di Jalur Gaza.

“Kalian membunuhi orang-orang.” seru Erdogan keras kepada Perez. “Apa yang kalian lakukan tidak manusiawi!”

Menanggapi perkataan Erdogan, Perez langsung memotong dengan panas, “Apakah Anda sungguh benar-benar mengerti akan situasi dimana ratusan roket berhamburan dan menyerang perempuan dan anak-anak? Ada apa dengan Anda?” repetnya.

Erdogan tidak terima perkataan Perez, dan ia meminta waktu kepada moderator untuk kembali bicara. Namun, ia hanya diberikan waktu satu menit saja. “Kalian, Israel, tidak pernah mau mendengarkan.”

Setelah itu, Erdogan pun berkata, “Bagi saya pertemuan Davos sudah selesai. Saya tidak diizinkan untuk bicara di sini. Perdana Menteri kalian, Ohud Olmert, mengatakan sangat senang memasuki Palestina dengan tank, peluru dan roket, dan membunuh warganya.” ujarnya dengan nada tegas kepada Perez, yang langsung disambut dengan tepuk-tangan para hadirin. Setelah itu, Erdogan pun meninggalkan forum dan dengan cuek melewati Perez yang tampak tertekan. Erdogan mengatakan tak akan menghadiri lagi forum itu.

Perkataan Erdogan di atas langsung membuat Shimon Perez mengkerut. Ia terlihat tidak pede dalam pertemuan itu. Perdana Menteri Kjell Magne Bondevik dari Norwegia berkata, “Saya tidak pernah melihat Perez seperti itu. Ia mungkin sadar bahwa seluruh dunia sekarang sedang memusuhinya. Saya sedih Erdogan meninggalkan forum.”

Dukungan untuk Erdogan datang dari banyak pihak. Menteri Luar Negeri Mesir, Moussa, yang selama debat hanya diam saja, berkomentar, “Sikap Erdogan bisa dipahami. Israel memang tidak pernah mendengarkan siapapun.”

Hubungan Turki dengan Israel memang menjadi buruk ketika Israel melancarkan Operasi Cast Lead ke Gaza. Recep Tayyip Erdogan adalah satu dari sedikit pemimpin negara yang secara terang-terangan mengecam Israel. (eramuslim)

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Israel Kalah Perang

Posted by Hamzah pada Januari 20, 2009

Israel Kalah Perang

http://warnaislam.com/rubrik/jurnalistik/2009/1/20/51960/Israel_Kalah_Perang.htm
Selasa, 20 Januari 2009 14:26

MENGAPA militer Israel menghentikan (sementara) serangannya di Gaza? Mengapa rezim Zionis tiba-tiba “bersikap manis” dengan menyatakan gencatan senjata sepihak? Sejumlah pengamat, bahkan orang Israel sendiri, mengatakan, Israel kalah perang atau setidaknya gagal total dalam mencapai tujuannya menyerang Gaza/Hamas.

Pertama, Israel merasa tidak akan mampu menumpas Hamas. Meneruskan perang hanya akan memperkuat popularitas Hamas berkat simpati dunia atas korban sipil –utamanya wanita dan anak-anak– di pihak Palestina.

Menurut analisis politik Najah Nasional University Nablus, Dr. Abdelsattar Qassem, perang yang terjadi di Gaza hanya menjadikan Hamas sebagai kekuatan perjuangan yang sangat dikagumi dikalangan penduduk. “Popularitas Hamas kini menyeruak ke seluruh dunia… dan Otoritas Palestina (PA) yang dipimpin Presiden Mahmud Abbas tersungkur,” ujar Dr. Qassem.

Hamas sendiri menyatakan, Israel telah gagal mencapai tujuannya. “We kill 80, Lost 48,” kata jurubicara Brigade Izzuddin Al-Qassam (sayap militer Hamas), Abu Obeida. “Kami membunuh sedikitnya 80 tentara Israel dan kehilangan 48 pejuang kami,” katanya sepertid dilansir islamonline.net (20/1).

Kedua, Israel sebenarnya rugi besar dengan menyerang Gaza. Jumlah korban di pihak Israel bukan puluhan, tapi ratusan, sebagaimana diakui anggota parlemen Israel dari Partai Likud, Yisrael Katz. “Israel tidak mencapai tujuannya dan menimbulkan ratusan korban di kalangan militernya,” kata Katz seperti diberitakan koran terkemuka Inggris, The Observer. Perang Gaza, tulis The Obeserver, menimbulkan kekalahan secara militer dan moral di pihak Israel.

Katz menegaskan, operasi militer ke Gaza gagal total. Itu dibuktikan dengan pengumuman Perdana Menteri Israel yang secara sepihak menyatakan gencatan senjata di Gaza. Isreal tidak mampu memusnahkan kekuatan Hamas, tidak pula menghasilkan perjanjian penghentian pengiriman senjata, serta gagal membebaskan Kopral Gilad Shalid

“Israeli Likud lawmaker Yisrael Katz admitted the failure of the Israeli military aggression on the Gaza Strip, asserting that Israel did not achieve its goals in the war which resulted in hundreds of casualties in the ranks of its troops.

Katz said that the military operation in Gaza did not succeed after Israeli premier Ehud Olmert announced a unilateral ceasefire, pointing out that Israel neither eliminated the strength of the Palestinian resistance factions, nor reached an agreement to stop arms supplies to Gaza or get Israeli soldier Gilad Shalit released.

The Observer, one of the best-selling newspapers in the UK, said that the war on Gaza inflicted a moral defeat on Israel.” (www.ikhwanweb.com).

Hal senada dikemukakan Kepala Agen Keamanan Israel (Shin Bet), Yuval Diskin. Seperti dilansir The Australian, Diskin mengakui kekalahan militer Israel. Saat perang berlangsung, Kepala Israel Security Agency (ISA) menegaskan ketidakmampuan angkatan bersenjata Zionis-Israel dalam mengatasi Hamas. Diskin juga mengatakan, tidak semua tarjet, termasuk terowongan-terowongan sepanjang Mesir, Palestina dan Gaza bisa dihancurkan.

Ketiga, meluas dan meningkatnya simpati dunia kepada Palestina, bersamaan dengan kecaman jutaan demonstran di seluruh dunia terhadap Zionis Israel, mengarah pada “aksi damai” berupa boikot produk Yahudi. Aksi boikot diyakini mampu merontokkan bisnis kaum Yahudi sekaligus melumpuhkan negara Israel. Israel khawatir, jika tidak segera menghentikan perang, kampanye boikot itu membebas dan meluas.

Kantor Berita Qudsna memberitakan, koran Yediot Aharonot Israel menulis, negara-negara Eropa seperti Denmark, Swedia, dan Norwegia membatalkan sejumlah besar kontrak pembelian produk Israel. Yediot Aharonot juga melaporkan list produk makanan yang rusak karena Eropa tidak bersedia menerima barang Israel untuk ditempatkan di gudang-gudang. Koran ini juga memperingatkan pemimpin rezim ini terkait kondisi yang ada. (www.hidayatullah.com).

Kemungkinan negara lain juga akan bergabung dengan Eropa. Dalam aksi brutalnya selama 22 hari ke Jalur Gaza, Israel telah mengeluarkan dana sebesar 30 juta USD dan kini rezim ini menghadapi ancaman penurunan ekspor dan impor.

Seruan boikot produk Yahudi berlangsung sejak lama dan mengemuka tiap kali Israel menunjukkan barbarianismenya di Palestina. Sejumlah perusahaan Amerika, Inggris, dan negara Barat lainnya dengan produk merek terkenal –semisal Coca Cola, Pepsi, Fanta, Sprite, McD, KFC, Carrefour, Disney, Danone, Calvin Klien, IBM, Nestle, Nokia, Sara Lee, Sanex, dan banyak lagi— diyakini menjadi penyokong dana bagi eksistensi Israel.

Syekh Yusuf Al-Qaradawi pernah mengingatkan umat Islam: “Satu riyal yang Anda keluarkan untuk membeli produk Israel dan AS, sama dengan satu peluru yang akan merobek tubuh saudara Anda (sesama Muslim) di Palestina”. Wallahu a’lam.*

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Dunia arab harus bersatu

Posted by Hamzah pada Januari 19, 2009

http://layar. suaramerdeka. com/index. php?id=368

PROF Dr Yunahar Ilyas Lc MAg, salah satu Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah, sangat memahami persoalan Palestina. Guru Besar Fakultas
Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang empat tahun
belajar di Arab ini beberapa kali mengikuti berbagai pertemuan
mengenai “Palestina dan Arab” di Kairo dan Lebanon. Apa penda­pat dia
tentang serangan membabibuta Israel? Apa komentar dia tentang rencana
jihad orang Indonesia ke sana? Berikut petikan perbincangan dengan
penulis buku Kisah Para Rasul dan Tipologi Manusia dalam Alquran
tersebut di Yogyakarta, belum lama ini.

Dilihat dari perspektif teologis dan historis, Palestina selalu
bergolak. Apa penyebabnya?

Persoalan yang sekarang ini terjadi akibat ada perjuangan orang-orang
yang dijajah melawan penjajah. Penjajah itu –Israel atau Zionis–
merasa punya alasan teologis dan historis. Secara historis, mereka
mengklaim merekalah pewaris sah tanah Palestina karena di kawasan itu
pernah tinggal Raja Sulaiman, raja mereka. Kita tahu di sana pula Nabi
Sulaiman dulu sangat berkuasa dan memiliki Haikal (Pusat Kerajaan)
Sulaiman. Adapun secara teologis, Zionis menganggap Palestina sebagai
tanah mereka karena dalam Perjanjian Lama dinyatakan kawasan itu
adalah “Tanah yang Dijanjikan oleh Tuhan (Promised Land)” untuk bangsa
Israel. Sebaliknya secara historis, rakyat Palestina menyatakan, “Kami
bangsa Palestina berada di negeri ini sejak zaman Umar bin Khatab.”

Jadi jika dihitung sejak Umar bin Khatab hingga pertengahan abad ke-20
–ketika persoalan muncul– orang-orang Palestina telah di sana lebih
kurang 13,5 abad. Umar bin Khatab menguasi tanah itu bukan dari tangan
Yahudi, melainkan dari Nasrani. Ia merebut dari Romawi Timur
–pemerintahannya berpusat di Konstantinopel atau Byzantium– yang
telah berkuasa sekitar 300 tahun.

Persoalannya kemudian: adakah hukum internasional yang memperbolehkan
orang mengambil negerinya kembali –jika itu benar-benar negerinya–
yang yang telah ditinggalkan 16,5 abad lalu? Jika boleh orang-orang
Australia harus keluar dari Australia karena mereka merupakan
orang-orang baru di benua itu. Demikian juga orang-orang Amerika harus
hengkang dari Negeri Paman Sam karena usia kedatangan mereka belum lama.

Pertanyaan yang lain: apa bukti orang Israel itu keturunan Nabi
Sulaiman? Mungkin jawabannya: karena kami sebangsa dengan Nabi
Sulaiman. Ini jawaban yang masih bisa didebat. Orang diakui sebagai
suatu bangsa jika memenuhi dua atau paling tidak satu kriteria.
Pertama, wajah. Kedua, bahasa. Orang Palestina mengatakan kepada orang
Israel, “Anda itu tidak berwajah Semit. Anda lebih tampak sebagai
orang Eropa Timur atau Rusia. Yang tinggal di sini kan orang Semit.
Bahasa Anda juga tidak seperti yang digunakan oleh Nabi Musa atau Nabi
Sulaiman. Jadi tidak sah Anda mengklaim sebagai warga bangsa Palestina.”

Hemat saya Israel memang tidak punya alasan menjajah Palestina. Karena
itu satu-satunya cara merebut wilayah itu ya dengan jalan kekerasan.

Bagaimana sebenarnya orang-orang Yahudi datang ke Palestina?

Secara diam-diam mereka dibawa oleh Inggris. Tatkala dunia Islam
dipimpin oleh Khilafah Ustmaniah yang kekuasaannya terbentang dari
Maroko, Aljazair, Tunisia sampai ke Arab Saudi, bahkan India, Turki,
Iran, dan Balkan, siapa pun –termasuk Eropa– tak sanggup melawan
–Imperium Ottoman atau Ustmani itu. Namun, karena ada nasionalisme
Arab, muncullah perlawanan untuk melepaskan diri dari kekuasaan
Utsmaniah. Imperium yang dulu kuat itu pada saat sama menjadi lemah
karena terjerat utang, pejabatnya korup, dan suka berfoya-foya.

Karena itu masyarakat Zionis Eropa kemudian menawarkan kepada Sultan
Abdul Hamid II untuk membantu mengukuhkan kerajaan yang bangkrut itu.
Tentu saja para Zionis minta imbalan dan mereka meminta tanah
Palestina untuk mendirikan Kerajaan Israel Raya.

Sultan Abdul Hamid II menolak. Dia bilang, “Tanah ini merupakan wakaf
umat Islam. Jika saya berikan kepada kalian saya akan dikutuk
turun-temurun. ” Sejarah kemudian menjuluki kerajaan itu sebagai “Orang
Tua yang Sakit-sakitan” . Perlakuan terhadap orang tua yang sakit itu,
jika anaknya baik, ya diobati, atau dibiarkan toh lama-lama mati, atau
dipercepat kematiannya.

Kita kemudian tahu Khilafah Ustmaniah dipercepat kematiannya oleh
Yahudi dengan menggunakan orang dalam, yakni Mustafa Kemal Ataturk,
yang membentuk republik sekuler Turki. Sementara itu Mesir, Suriah,
dan negeri-negeri lain memerdekakan diri. Akhirnya tinggal Turki,
sehingga memudahkan kolonialisme dan imperialisme masuk. Inggris,
Pracis, dan Italia lalu berbagi wilayah. Namun, satu per satu wilayah
yang dikuasai penjajah merdeka.

Hanya ketika giliran Palestina, wilayah itu oleh PBB diberikan kepada
Inggris sebagai negara protektorat. Inggris diberi amanah
mempersiapkan kemerdekaan Palestina. Pada saat itulah secara diam-diam
Inggris membawa orang-orang Yahudi ke sana. Mula-mula orang-orang
Yahudi itu hanya tinggal di sana, sedikit demi sedikit membeli tanah,
kemudian kian meluas, dan akhirnya justru menguasai.

Lalu muncullah beberapa kali peperang­an Yahudi versus Palestina.
Israel didukung Amerika melawan negara-negara lain di Timur Tengah
yang tidak bisa bersatu.

Pada masa Yasser Arafat hampir ada perdamaian indah. Apa yang
menyebabkan perdamaian itu selalu tak terwujud?

Sejak dulu sebenarnya sudah ada perundingan, tetapi selalu dilanggar
oleh Israel. Israel tak pernah menapati janji, walaupun pejuang
Palestina sudah mau mundur dari garis yang telah disepakati. Dulu
sebenarnya perlawanan terhadap Israel cukup bagus tatkala
negara-negara Arab mau berperang. Mereka pernah beberapa kali menang
dari Israel. Mereka juga beberapa kali kalah. Mesir kapok karena
sebagian yang lain tidak ikut perang.

Tentu di Palestina sendiri kita kemudian bisa mencatat kemunculan
Yasser Arafat dan PLO, serta Fatah. Perundingan- perundingan terjadi
sampai mucul Perundingan Oslo yang menjanjikan kemerdekaan bagi
Palestina. Namun lagi-lagi Israel tak mepati janji.

Karena selalu tak ditepati, rakyat Palestina melawan dengan intifadah,
melempar batu. Ini dihentikan dengan perjanjian, tetapi dilanggar
lagi, sehingga muncul intifadah lagi. Begitu seterusnya. Para pejuang
intifadah ini bergabung dalam Hamas (Gerakan Perlawanan Islam). Dan
melihat perjanjian selalu tak ada gunanya, resolusi PBB tidak bisa
dijalankan atau jika dilanggar oleh Israel tak muncul sanksi, maka
Hamas bilang, “Tiada jalan lain, kita harus merebut Palestina dengan
berperang, meskipun hanya dengan menggunakan batu.”

Pada saat sama terjadi perbedaan pendapat antara Fatah dan Hamas. Pada
saat Yasser Arafat masih hidup, perbedaan itu tak sampai menimbulkan
sengketa, karena Hamas menghormati pemimpin PLO itu. Namun begitu
Arafat meninggal dan diganti oleh Mahmoud Abbas, sengketa Fatah-Hamas
tak terdamaikan, bahkan Abbas dikudeta di daerah Gaza. Gaza kemudian
dibagi dua menjadi Tepi Barat (Fatah) dan Gaza (Hamas). Sebenarnya
sebelum terbagi dua ada pemilu demokratis yang dimenangi oleh Hamas.
Sayang Amerika, Eropa, dan sekutu tak mengakui dan malah Hamas
diboikot dengan tujuan agar rakyat menderita dan meminta Abbas
memimpin. Akan tetapi rakyat Palestina pro-Hamas bersedia menderita
karena melihat Hamas lebih tulus dan islami jika dibandingkan dengan
Fatah yang sekuler. Ideologi Fatah itu hanya “nasionalis” .
Orang-orangnya ada yang Yahudi, Kristen, dan atheis. Ditambah ada
banyak orang Fatah yang korupsi, sehingga rakyat Palestina memang
cenderung berpaling ke Hamas.

Sebenarnya ini merupakan kesempatan Amerika dan sekutu untuk berunding
dengan Hamas. Namun Hamas justru dikucilkan. Sekarang ini Israel
bertujuan menghancurkan Hamas dan ingin mendudukkan Fatah (Abbas).
Dalam Protokoler Israel, hanya ada dua cara menghadapi musuh:
didominasi atau dihancurkan. Fatah cenderung bisa didominasi,
sedangkan Hamas hanya hilang jika dihancurkan.

Apakah Fatah dan Hamas masih mungkin bersatu?

Masih sangat mungkin. Intinya bangsa Arab gampang berkelahi, tetapi
gampang berdamai. Mereka tak berdamai ketika ada pemain asing ikut
campur. Dengan kata lain, orang Palestina sendiri masih mungkin
berdamai, jika tidak dicampuri oleh Israel, Amerika, atau Uni Eropa.

 Nah, sekarang kalau ada orang Indonesia yang hendak campur tangan
dengan berjihad di sana, apa komentar Anda?

Untuk menyelesaikan konflik sesama Arab memang serahkan saja kepada
sesama Arab. Masalahnya yang sekarang ini terjadi kan bukan sesama
Arab. Yang berperang kan Palestina dan Israel yang didukung Amerika
Serikat. Jadi jika ada yang bersolidaritas dengan ber-jihad melawan
Israel, janganlah dianggap sebagai perang sungguhan. Itu hanya
ekspresi. Biarkan juga jika ada yang menangis, berdoa, melakukan qunut
nazilah, memberi sumbangan dana, memberi obat, atau jadi relawan.
Pemerintah tidak perlu menanggapi secara atraktif. Toh jika pada
akhirnya harus mengirim pasukan toh tentara yang akan dikirim.
Organisasi Konferensi Islam (OKI) saat ini memang sudah memutuskan
untuk mengirimkan tentara perdamaian. OKI seharusnya mengirim juga
pakta pertahanan.

Jika orang Indonesia ingin melakukan sesuatu untuk rakyat Palestina,
pertama, bantulah dengan doa agar Tuhan menurunkan malaikat untuk
membantu Palestina seperti pada saat Allah membantu Nabi dalam Perang
Badar. Kedua, memberikan sumbangan. Ketiga, meminta negara-negara Arab
bersatu menghadapi Israel. Itu saja.
http://layar. suaramerdeka. com/index. php?id=368

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Cartoons about Israel in GAZA

Posted by Hamzah pada Januari 15, 2009

Brazilian cartoonist Carlos Latuff creates artworks that call on the world to condemn Israeli holocaust of Gaza

Nepos Libertas’s blog

WUFYS
Carlos Latuff’s statement:
I’d like to beg all viewers to spread this image anywhere, as a way to expose Israeli war crimes against Palestinians. Use it on t-shirts, posters, banners. Reproduce it in zines, papers, magazines, and make it visible everywhere. Here is the high-resolution version for printing purposes:
Thank you in the name of every suffering Palestinian.

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Gaza: Bagaimana Hamas Terpilih

Posted by Hamzah pada Januari 13, 2009

Israel tidak bisa mengalahkan pemerintahan Hamas. Ribuan orang terbunuh atau terluka dalam perang ini, termasuk meningkatnya angka non-pejuang. Sebuah gencatan senjata jangka panjang yang dinegosiasikan dengan pemerintahan Hamas terpilih, seperti didiskusikan sebelumnya pada 2008 oleh mantan Presiden Bill Clinton dan pemimpin Hamas, merupakan satu-satunya jalan untuk mengakhiri perang ini.

Pertumbuhan Hamas setidaknya dimulai sekitar 20 tahun lalu. Saya sedang berada di Hotel Marna House di kota Gaza ketika pada 1987 intifada (peningkatan) dimulai. Beberapa remaja memblokade jalanan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , , , , | 1 Komentar »

Pakar Norwegia: Hamas Mendapatkan Kepercayaan dan Dukungan Rakyat

Posted by Hamzah pada Januari 13, 2009

[ 09/01/2009]

Oslo ・Infopalestina: Pakar urusan Palestina dari Norwegia, Profesor
Dag Hendrick, menegaskan sulit menundukkan Gerakan Perlawanan Islam
Hamas melalui aksi militer. Menurutnya gerakan ini mendapatkan
kepercayaan mayoritas rakyat Palestina dan dukungan mereka.

Guru besar Universitas Oslo ini mengatakan, “Pada tahun baru ini
pemimpin Hamas Nazar Rayyan gugur bersama 15 anggota keluarganya,
setelah rumhanya di kamp pengungsi Jabaliya, Gaza, digempur.” Dia
menegaskan, “Para pemimpin Hamas tidak pernah bersembunyi. Mereka
berbuat sebagaimana yang dilakukan orang-orang Palestina. Mereka
muncul di permukaan untuk menunjukan perlawanan mereka. Kali ini
Israel menggempur sebuah rumah.” Dia melanjutkan, “Bila kita ingin
memahami berapa banyak mereka yang mendukung Hamas, maka kita harus
mencatat kondisi ini.” Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Bangsa Indonesia berutang budi pada Bangsa Palestina

Posted by Hamzah pada Januari 13, 2009

Ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?
Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari.
Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.

Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , , , | 2 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.