http://layar. suaramerdeka. com/index. php?id=368
PROF Dr Yunahar Ilyas Lc MAg, salah satu Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah, sangat memahami persoalan Palestina. Guru Besar Fakultas
Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang empat tahun
belajar di Arab ini beberapa kali mengikuti berbagai pertemuan
mengenai “Palestina dan Arab” di Kairo dan Lebanon. Apa pendapat dia
tentang serangan membabibuta Israel? Apa komentar dia tentang rencana
jihad orang Indonesia ke sana? Berikut petikan perbincangan dengan
penulis buku Kisah Para Rasul dan Tipologi Manusia dalam Alquran
tersebut di Yogyakarta, belum lama ini.
Dilihat dari perspektif teologis dan historis, Palestina selalu
bergolak. Apa penyebabnya?
Persoalan yang sekarang ini terjadi akibat ada perjuangan orang-orang
yang dijajah melawan penjajah. Penjajah itu –Israel atau Zionis–
merasa punya alasan teologis dan historis. Secara historis, mereka
mengklaim merekalah pewaris sah tanah Palestina karena di kawasan itu
pernah tinggal Raja Sulaiman, raja mereka. Kita tahu di sana pula Nabi
Sulaiman dulu sangat berkuasa dan memiliki Haikal (Pusat Kerajaan)
Sulaiman. Adapun secara teologis, Zionis menganggap Palestina sebagai
tanah mereka karena dalam Perjanjian Lama dinyatakan kawasan itu
adalah “Tanah yang Dijanjikan oleh Tuhan (Promised Land)” untuk bangsa
Israel. Sebaliknya secara historis, rakyat Palestina menyatakan, “Kami
bangsa Palestina berada di negeri ini sejak zaman Umar bin Khatab.”
Jadi jika dihitung sejak Umar bin Khatab hingga pertengahan abad ke-20
–ketika persoalan muncul– orang-orang Palestina telah di sana lebih
kurang 13,5 abad. Umar bin Khatab menguasi tanah itu bukan dari tangan
Yahudi, melainkan dari Nasrani. Ia merebut dari Romawi Timur
–pemerintahannya berpusat di Konstantinopel atau Byzantium– yang
telah berkuasa sekitar 300 tahun.
Persoalannya kemudian: adakah hukum internasional yang memperbolehkan
orang mengambil negerinya kembali –jika itu benar-benar negerinya–
yang yang telah ditinggalkan 16,5 abad lalu? Jika boleh orang-orang
Australia harus keluar dari Australia karena mereka merupakan
orang-orang baru di benua itu. Demikian juga orang-orang Amerika harus
hengkang dari Negeri Paman Sam karena usia kedatangan mereka belum lama.
Pertanyaan yang lain: apa bukti orang Israel itu keturunan Nabi
Sulaiman? Mungkin jawabannya: karena kami sebangsa dengan Nabi
Sulaiman. Ini jawaban yang masih bisa didebat. Orang diakui sebagai
suatu bangsa jika memenuhi dua atau paling tidak satu kriteria.
Pertama, wajah. Kedua, bahasa. Orang Palestina mengatakan kepada orang
Israel, “Anda itu tidak berwajah Semit. Anda lebih tampak sebagai
orang Eropa Timur atau Rusia. Yang tinggal di sini kan orang Semit.
Bahasa Anda juga tidak seperti yang digunakan oleh Nabi Musa atau Nabi
Sulaiman. Jadi tidak sah Anda mengklaim sebagai warga bangsa Palestina.”
Hemat saya Israel memang tidak punya alasan menjajah Palestina. Karena
itu satu-satunya cara merebut wilayah itu ya dengan jalan kekerasan.
Bagaimana sebenarnya orang-orang Yahudi datang ke Palestina?
Secara diam-diam mereka dibawa oleh Inggris. Tatkala dunia Islam
dipimpin oleh Khilafah Ustmaniah yang kekuasaannya terbentang dari
Maroko, Aljazair, Tunisia sampai ke Arab Saudi, bahkan India, Turki,
Iran, dan Balkan, siapa pun –termasuk Eropa– tak sanggup melawan
–Imperium Ottoman atau Ustmani itu. Namun, karena ada nasionalisme
Arab, muncullah perlawanan untuk melepaskan diri dari kekuasaan
Utsmaniah. Imperium yang dulu kuat itu pada saat sama menjadi lemah
karena terjerat utang, pejabatnya korup, dan suka berfoya-foya.
Karena itu masyarakat Zionis Eropa kemudian menawarkan kepada Sultan
Abdul Hamid II untuk membantu mengukuhkan kerajaan yang bangkrut itu.
Tentu saja para Zionis minta imbalan dan mereka meminta tanah
Palestina untuk mendirikan Kerajaan Israel Raya.
Sultan Abdul Hamid II menolak. Dia bilang, “Tanah ini merupakan wakaf
umat Islam. Jika saya berikan kepada kalian saya akan dikutuk
turun-temurun. ” Sejarah kemudian menjuluki kerajaan itu sebagai “Orang
Tua yang Sakit-sakitan” . Perlakuan terhadap orang tua yang sakit itu,
jika anaknya baik, ya diobati, atau dibiarkan toh lama-lama mati, atau
dipercepat kematiannya.
Kita kemudian tahu Khilafah Ustmaniah dipercepat kematiannya oleh
Yahudi dengan menggunakan orang dalam, yakni Mustafa Kemal Ataturk,
yang membentuk republik sekuler Turki. Sementara itu Mesir, Suriah,
dan negeri-negeri lain memerdekakan diri. Akhirnya tinggal Turki,
sehingga memudahkan kolonialisme dan imperialisme masuk. Inggris,
Pracis, dan Italia lalu berbagi wilayah. Namun, satu per satu wilayah
yang dikuasai penjajah merdeka.
Hanya ketika giliran Palestina, wilayah itu oleh PBB diberikan kepada
Inggris sebagai negara protektorat. Inggris diberi amanah
mempersiapkan kemerdekaan Palestina. Pada saat itulah secara diam-diam
Inggris membawa orang-orang Yahudi ke sana. Mula-mula orang-orang
Yahudi itu hanya tinggal di sana, sedikit demi sedikit membeli tanah,
kemudian kian meluas, dan akhirnya justru menguasai.
Lalu muncullah beberapa kali peperangan Yahudi versus Palestina.
Israel didukung Amerika melawan negara-negara lain di Timur Tengah
yang tidak bisa bersatu.
Pada masa Yasser Arafat hampir ada perdamaian indah. Apa yang
menyebabkan perdamaian itu selalu tak terwujud?
Sejak dulu sebenarnya sudah ada perundingan, tetapi selalu dilanggar
oleh Israel. Israel tak pernah menapati janji, walaupun pejuang
Palestina sudah mau mundur dari garis yang telah disepakati. Dulu
sebenarnya perlawanan terhadap Israel cukup bagus tatkala
negara-negara Arab mau berperang. Mereka pernah beberapa kali menang
dari Israel. Mereka juga beberapa kali kalah. Mesir kapok karena
sebagian yang lain tidak ikut perang.
Tentu di Palestina sendiri kita kemudian bisa mencatat kemunculan
Yasser Arafat dan PLO, serta Fatah. Perundingan- perundingan terjadi
sampai mucul Perundingan Oslo yang menjanjikan kemerdekaan bagi
Palestina. Namun lagi-lagi Israel tak mepati janji.
Karena selalu tak ditepati, rakyat Palestina melawan dengan intifadah,
melempar batu. Ini dihentikan dengan perjanjian, tetapi dilanggar
lagi, sehingga muncul intifadah lagi. Begitu seterusnya. Para pejuang
intifadah ini bergabung dalam Hamas (Gerakan Perlawanan Islam). Dan
melihat perjanjian selalu tak ada gunanya, resolusi PBB tidak bisa
dijalankan atau jika dilanggar oleh Israel tak muncul sanksi, maka
Hamas bilang, “Tiada jalan lain, kita harus merebut Palestina dengan
berperang, meskipun hanya dengan menggunakan batu.”
Pada saat sama terjadi perbedaan pendapat antara Fatah dan Hamas. Pada
saat Yasser Arafat masih hidup, perbedaan itu tak sampai menimbulkan
sengketa, karena Hamas menghormati pemimpin PLO itu. Namun begitu
Arafat meninggal dan diganti oleh Mahmoud Abbas, sengketa Fatah-Hamas
tak terdamaikan, bahkan Abbas dikudeta di daerah Gaza. Gaza kemudian
dibagi dua menjadi Tepi Barat (Fatah) dan Gaza (Hamas). Sebenarnya
sebelum terbagi dua ada pemilu demokratis yang dimenangi oleh Hamas.
Sayang Amerika, Eropa, dan sekutu tak mengakui dan malah Hamas
diboikot dengan tujuan agar rakyat menderita dan meminta Abbas
memimpin. Akan tetapi rakyat Palestina pro-Hamas bersedia menderita
karena melihat Hamas lebih tulus dan islami jika dibandingkan dengan
Fatah yang sekuler. Ideologi Fatah itu hanya “nasionalis” .
Orang-orangnya ada yang Yahudi, Kristen, dan atheis. Ditambah ada
banyak orang Fatah yang korupsi, sehingga rakyat Palestina memang
cenderung berpaling ke Hamas.
Sebenarnya ini merupakan kesempatan Amerika dan sekutu untuk berunding
dengan Hamas. Namun Hamas justru dikucilkan. Sekarang ini Israel
bertujuan menghancurkan Hamas dan ingin mendudukkan Fatah (Abbas).
Dalam Protokoler Israel, hanya ada dua cara menghadapi musuh:
didominasi atau dihancurkan. Fatah cenderung bisa didominasi,
sedangkan Hamas hanya hilang jika dihancurkan.
Apakah Fatah dan Hamas masih mungkin bersatu?
Masih sangat mungkin. Intinya bangsa Arab gampang berkelahi, tetapi
gampang berdamai. Mereka tak berdamai ketika ada pemain asing ikut
campur. Dengan kata lain, orang Palestina sendiri masih mungkin
berdamai, jika tidak dicampuri oleh Israel, Amerika, atau Uni Eropa.
Nah, sekarang kalau ada orang Indonesia yang hendak campur tangan
dengan berjihad di sana, apa komentar Anda?
Untuk menyelesaikan konflik sesama Arab memang serahkan saja kepada
sesama Arab. Masalahnya yang sekarang ini terjadi kan bukan sesama
Arab. Yang berperang kan Palestina dan Israel yang didukung Amerika
Serikat. Jadi jika ada yang bersolidaritas dengan ber-jihad melawan
Israel, janganlah dianggap sebagai perang sungguhan. Itu hanya
ekspresi. Biarkan juga jika ada yang menangis, berdoa, melakukan qunut
nazilah, memberi sumbangan dana, memberi obat, atau jadi relawan.
Pemerintah tidak perlu menanggapi secara atraktif. Toh jika pada
akhirnya harus mengirim pasukan toh tentara yang akan dikirim.
Organisasi Konferensi Islam (OKI) saat ini memang sudah memutuskan
untuk mengirimkan tentara perdamaian. OKI seharusnya mengirim juga
pakta pertahanan.
Jika orang Indonesia ingin melakukan sesuatu untuk rakyat Palestina,
pertama, bantulah dengan doa agar Tuhan menurunkan malaikat untuk
membantu Palestina seperti pada saat Allah membantu Nabi dalam Perang
Badar. Kedua, memberikan sumbangan. Ketiga, meminta negara-negara Arab
bersatu menghadapi Israel. Itu saja.
http://layar. suaramerdeka. com/index. php?id=368